sekapur sirih
Laci … atau ada yang menyebutnya dengan kata “sorok” (jawa), umum ditemukan menempel (gayut) dengan meja kerja/belajar (meskipun ada juga di perabot lain seperti almari). Posisinya berada di bawah permukaan papan kerja dengan posisi di samping kanan atau bahkan ada di dua sisi kanan-kiri posisi duduk penggunanya. Umumnya minimal ada 1 laci dan di bawahnya masih ada almari kecil yang dilengkapi dengan pintu atau lawang (jawa). Disebut almari kecil karena memang berdimensi kecil dan tidak bisa masuk katagori dengan penamaan atau sebutan laci.
Laci ini pun juga tidak memiliki dimensi besar dan tidak perlu harus disebut dengan laci kecil atau laci besar, walaupun ukuran laci bisa berbeda satu dengan yang lain. Istilah lebih mentereng nya adalah “kotak atau box”, karena memang bentuk fisiknya kotak – bisa panjang atau kubus – tergantung. Lalu ada yang menyebutnya lengkap “kotak laci atau box laci”.
Yang khas dan membedakan dengan sebutan almari adalah dari struktur mekanisme nya. Laci hampir 100% tidak memiliki pintu seperti almari, karena memang tidak butuh pintu seperti halnya almari yang berperan sebagai penutup sekaligus pengaman (termasuk kunci) agar isinya tidak perlu harus vulgar terlihat (disembunyikan – kecuali dengan pintu kaca). Untuk membuka/menutup laci, pengguna perlu menarik (keluar) atau mendorong (masuk) struktur kotak atau box itu secara keseluruhan melalui handel (pegangan tangan) yang sudah tersedia (tergantung desain nya). Agar mudah dan lancar buka/tutup nya, di bawah/samping konstruksi kotak biasanya dilengkapi bingkai/alur landasan atau rel dengan roda.
Pemahaman fungsi sederhananya adalah sebagai wadah segala macam materi berdimensi relatif kecil, dan sifatnya berkelanjutan karena acap kali digunakan untuk mendukung proses pekerjaan yang dilakukan penggunanya. Oleh karenanya, frekuensi penggunaan (buka/tutup) laci berdurasi cukup tinggi, terkecuali penggunanya jarang-jarang berinteraksi dengan papan meja kerja nya.
Penggunaan laci juga butuh sentuhan ilmu manajemen, walaupun sederhana namun penerapan nya mampu memperlihatkan/menunjukkan karakter penggunanya. Lihat saja isinya, apakah berantakan atau tertata rapi/terstruktur, apakah isinya sesuai dengan perihal kebutuhan dikaitkan dengan aktifitas yang selalu dilakukan di papan meja kerja nya, apakah juga memperhitungkan kapasitas volume laci atau tidak.
Volume laci ibaratnya adalah papan display. Fungsi selain menyimpan, laci berperan juga memberi kemudahan visual untuk memahami isi keseluruhan. Berperan pula untuk memperlancar kerja terkait dengan informasi materi apa yang dibutuhkan dan untuk segera digunakan. Dengan konsepsi demikian, maka pengguna akan terhindar dari kesesatan visual dan boros waktu, karena sibuk dengan kegiatan mencari. Oleh karenanya perlu tertata dan tersuguhkan secara tematis terstruktur (terkatagori atau terkelompok).
Belajar dari pengalaman dan faktor usia; tentang kecerobohan, kesemrawutan, kealpaan, ketelingsutan, nggampangake, asal-asalan, unorganize dan sebangsanya; yang saat membutuhkan harus repot akhirnya kehilangan orientasi. LACI sengaja dibuat - selain - sebagai media simpan atau ARSIP, sekaligus sebagai LAWANGSINAU. LAWANG merupakan pintu informasi untuk SINAU, belajar tentang sesuatu bisa jadi banyak hal melalui catatan/tulisan/peristiwa penting atau yang boleh dianggap penting (bahkan bisa jadi tak terlalu), terbuka bagi siapapun yang ingin, mau dan berniatkan untuk melihat isi LACI sebagai LAWANGSINAU.
Semoga bermanfaat ….
–
Salam.